Selasa, April 7, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Mengurai Dinamika Musda VI Golkar Buru: Siapa Menguasai, Siapa Bertahan

 

Editorial oleh:
Drs. Muz Latuconsina, MF.

Panasnya bursa Ketua DPD II Partai Golkar di Kabupaten Buru bukan sekadar riak kecil dalam dinamika internal partai. Ini adalah pertarungan arah, gengsi, dan masa depan kekuasaan lokal yang kini mulai menampakkan wajah aslinya—kompetitif, tajam, dan sarat kepentingan.

Empat nama yang telah mengambil formulir yakni, M.Rum Soplestuny, Jaidun Sa’anun, Rustam Mahulete, dan Amrullah Madani Hentihu, bukan hanya deretan kandidat administratif. Mereka adalah representasi dari jaringan, pengaruh, dan ambisi yang selama ini bergerak di balik layar. Ketika tim sukses sudah lebih dulu bermanuver, publik paham bahwa pertarungan ini tidak akan berjalan datar. Ini bukan soal siapa paling cepat mengisi formulir, tapi siapa paling kuat mengunci dukungan.

Musyawarah Daerah (Musda) VI yang akan digelar pada 10 April di Kainawa Hotel Namlea berpotensi menjadi panggung klimaks dari pertarungan yang sesungguhnya sudah dimulai jauh hari. Di balik prosedur yang tampak rapi—pengembalian berkas, verifikasi, hingga pemenuhan syarat administratif—terselip lobi, negosiasi, bahkan kemungkinan tarik-ulur kepentingan yang tak kasat mata.

Regulasi yang mengacu pada Juklak memang tampak tegas: pengalaman, pendidikan, loyalitas, hingga dukungan 30 persen suara. Namun, dalam praktik politik, aturan sering kali hanya menjadi pagar formal. Yang menentukan adalah seberapa kuat seorang kandidat mengonsolidasikan kekuatan riil di lapangan.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: apakah kontestasi ini akan melahirkan pemimpin yang benar-benar berkapasitas dan berintegritas, atau sekadar figur kompromi dari tarik-menarik kepentingan elite?

Golkar di Buru kini sedang diuji. Apakah ia mampu menunjukkan wajah demokrasi internal yang sehat, atau justru terjebak dalam pola lama—di mana keputusan ditentukan bukan oleh kualitas, melainkan kedekatan dan kekuatan jaringan?

Satu hal yang pasti, dengan empat kandidat yang sudah masuk gelanggang sejak awal, suhu politik akan terus meningkat. Dan ketika suhu naik, biasanya rasionalitas diuji—siapa yang tetap tenang, dan siapa yang terbakar oleh ambisi sendiri.

Publik menonton. Kader menilai. Sejarah akan mencatat.

Musda ini bukan sekadar pergantian ketua. Ini adalah pertaruhan arah Partai Golkar di Kabupaten Buru untuk lima tahun ke depan. Dan seperti semua pertarungan besar, yang menang bukan hanya yang kuat—tetapi yang paling cerdas membaca momentum.

Popular Articles