Kalbar: Sikap heran bercampur curiga muncul seketika dibenak masyarakat, tat kala melihat rokok baru bermerk TB, One Bold, Terend, Melinium dan Helium, tumpah ruah dipasaran Kabupaten Kota Se Kalimantan Barat.
Pemerhati berpendapat, Jika dihubungkan dengan ketatnya penjagaan darat, laut dan udara serta profesionalnya kinerja para petugas perbatasan, rasanya mustahil barang ilegal tersebut mampu menembus pagar betis TNI, Polri Maupun Bea Dan Cukai yang terkenal seram.
Namun, lanjutnya, ternyata poin penilaian kinerja diatas, justru bertolak belakang dengan kondisi riil yang ada dilapangan. Terbukti, hampir disetiap lokasi, rokok bodong tanpa dilengkapi pita cukai resmi buatan pemerintah, betumpuk dan bebas diperjual belikan secara vulgar ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
” Jujur, kenyataan yang sulit untuk dipungkiri itu, jelas menimbulkan berbagai tudingan negatif ditubuh APH. Bahkan tidak sedikit yang menduga mereka sudah terkontaminasi oleh virus setoran dan jatah level marketing, ciptaan Tauke Rokok, ” tutur Bayu andito.
Omongan sumbang lainnya, juga terdengar pedas dibeberapa tempat. ” Saya sih yakin, saat rokok gelap mau masuk, penyeludup saling kordinasi dan sepakat beri setoran. Makanya jangan heran kalau barang gelap, diduga milik suami istri, AN dan YL tersebut, banjir dipasar tradisional, ” ungkap warga Kota Pontianak.
Awalnya, sambung dia, kami angkat jempol dengan penjaga wilayah perbatasan yang bekerja tanpa pamrih sebagai abdi negara dan membuat para penyeludup berpikir 86 kali untuk melakukan operasi kotornya. Tapi, ya itu tadi, semuanya spontan sirna.
Karna ini menyangkut kerugian keuangan negara, kunci solusinya ada ditangan Pangdam, Kapolda, Gubernur, Walikota, Bupati serta Kapolres se Kalimantan Barat. ” Petinggi-petinggi kita itulah yang bisa meredam sekaligus membasmi rokok ilegal tersebut, ” tegas penduduk Kubu Raya.(007/ Danil.A)

