BREAKING NEWS : KOMPAS.SBS.
SIKAP TAK TERBANTAHKAN DARI SABANG
Waka TKP Baderhood: Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM adalah Teror Terencana — Negara Diuji, Jangan Gagal
MEDIAKOMPAS.SBS.-WILAYAH ACEH
KOMPAS.SBS.-NEWS || SABANG-ACEH, 18 Maret 2026 — Aksi penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.00 hingga 23.37 WIB, tidak lagi sekadar menjadi peristiwa kriminal biasa. Insiden ini kini menjelma menjadi ujian serius bagi negara, sekaligus cermin rapuhnya perlindungan terhadap kebebasan sipil di Indonesia.
Gelombang kecaman terus meluas dan menguat. Dari pusat hingga daerah, satu pesan tegas bergema: ini bukan kriminalitas biasa—ini adalah teror yang menyasar kebebasan dan keberanian untuk bersuara.
Dari ujung barat Indonesia, Kota Sabang, suara keras dan tanpa kompromi disampaikan oleh Nori Karno, Wakil Ketua (Waka TKP) Baderhood Sabang. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut tidak bisa dipandang sebagai insiden acak, melainkan indikasi kuat adanya upaya sistematis untuk membungkam suara kritis.
“Ini bukan sekadar kekerasan. Ini adalah teror yang terencana dan penuh pesan intimidasi. Siapa pun yang berani bersuara, sedang diperingatkan dengan cara paling keji,” tegas Nori Karno.
Menurutnya, korban merupakan bagian dari elemen masyarakat yang selama ini berada di garis depan dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Karena itu, serangan ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas dan berbahaya.
“Ini pesan gelap: jangan kritis, jangan melawan. Kalau ini dibiarkan, maka kita sedang menyaksikan kemunduran demokrasi secara nyata,” ujarnya.
Lebih tajam lagi, Nori Karno menyoroti respons aparat penegak hukum yang tidak boleh lamban, apalagi ragu. Dalam situasi seperti ini, kata dia, negara sedang diuji: apakah benar-benar hadir melindungi rakyat atau justru membiarkan ketakutan tumbuh.
“Kalau aparat lambat dan tidak transparan, publik berhak bertanya: ada apa? Negara tidak boleh terlihat lemah, apalagi kalah oleh teror,” katanya dengan nada tegas.
Ia menuntut langkah konkret dari aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pelaku dan motif di balik kejadian tersebut secara terang-benderang.
“Jangan uji kesabaran publik. Tangkap pelaku, bongkar motifnya, buka semuanya seterang-terangnya. Hukum tidak boleh jadi formalitas—hukum harus jadi jawaban,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kegagalan dalam mengungkap kasus ini akan menciptakan preseden berbahaya, di mana kekerasan bisa menjadi alat efektif untuk membungkam.
“Kalau ini tidak dituntaskan, maka kita membuka pintu bagi teror berikutnya. Saat itu terjadi, negara bukan hanya lalai—tapi ikut bertanggung jawab,” ujarnya lugas.
Komunitas Baderhood Sabang, lanjutnya, menyatakan sikap tegas tanpa ruang abu-abu: berdiri bersama korban, mengawal proses hukum, dan menolak segala bentuk pembiaran terhadap kejahatan.
“Ini bukan hanya soal satu orang. Ini soal masa depan bangsa. Negara harus memilih: berdiri bersama keadilan, atau diam dan membiarkan teror menang,” tutup Nori Karno.
Kini, sorotan publik mengarah tajam kepada aparat penegak hukum. Tidak ada lagi ruang untuk lamban, tidak ada tempat untuk ragu.
Karena ketika hukum diam, teror akan berbicara lebih keras—dan keadilan akan kehilangan maknanya.
~Reporter/Perss KOMPAS.SBS.-Wilayah Sabang Aceh (MJ Eric Karno)
~Rilis/RedaksiNasional : KOMPAS.SBS.

