MAKASSAR – KOMPAS,. Sulawesi Selatan kini berada dalam cengkeraman mafia rokok ilegal. Ratusan merek rokok tanpa pita cukai alias “polos” membanjiri pasar, mulai dari pelosok desa Kabupaten hingga sudut kota, seolah hukum di negeri ini sedang tidur lelap.
Peredaran gelap ini bukan barang baru; ia telah menggurita selama bertahun-tahun tanpa ada tindakan yang benar-benar mematikan urat nadi para pelakunya.
Fenomena ini memicu kemarahan publik dan kecurigaan yang semakin liar di tengah masyarakat.
Restu Aparat di Balik Asap Ilegal.?
Yang paling mengejutkan, rumor mengenai adanya “restu” dari oknum aparat penegak hukum berembus kencang.
Warga di lapangan mengaku heran melihat rokok-rokok ini bisa dipasarkan secara terang-terangan di kios-kios tanpa ada rasa takut sedikit pun.Sabtu 21/02/2026
“Peredaran rokok ilegal ini sangat tangguh.
Konon, mereka bisa bergerak bebas karena ada ‘lampu hijau’ dari aparat. Kalau tidak ada bekingan, mana mungkin barang haram begini bisa merajalela tahunan tanpa disentuh?” cetus salah seorang warga dengan nada geram.
Bea Cukai: Ompong atau Sengaja “Tutup Mata”?
Pertanyaan besar yang kini menghantam tembok Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan adalah: Di mana kalian.?
Sebagai institusi garda terdepan yang memegang mandat undang-undang untuk memberantas cukai ilegal, Bea Cukai dituding gagal total.
Masyarakat dan pemerhati kebijakan publik mulai meragukan integritas instansi ini.
“Fakta di lapangan tidak bisa bohong. Kalau jumlah merek ilegal mencapai ratusan dan makin merajalela, sangat wajar jika kita bertanya Bea Cukai ini sedang kerja, sedang tidur, atau sedang ‘main mata’?” tegas seorang pengamat.
“Oleh-Oleh” Ratusan Sampel ke Kemenkeu
Kegeraman ini memuncak pada langkah nyata tim investigasi. Dikabarkan, ratusan sampel bungkus rokok ilegal dari berbagai merek dan kemasan telah dikumpulkan.
Sampel-sampel ini bukan sekadar bukti fisik, melainkan akan dikirim langsung sebagai “oleh-oleh” tamparan kepada Kementerian Keuangan dan Dirjen Bea Cukai di Jakarta.
Ini adalah sinyal darurat bahwa Sulawesi Selatan telah menjadi surga bagi para penyelundup, sementara negara menderita kerugian triliunan rupiah dari sektor cukai. Jika Jakarta tidak turun tangan, maka Sulsel diprediksi akan menjadi “Ibu Kota” rokok ilegal di Indonesia. (**)

